Udara Segar Rammang-Rammang V.S. Limbah COVID-19

Perjalanan dinas kami kali ini menuju kota Makassar, Sulawesi Selatan untuk meliput pengelolaan limbah medis infeksius COVID-19.

Pasien, keluarga pasien, dan penanggung jawab pasien, dalam perspektif ekonomi disebut “konsumen jasa kesehatan”. Para Pihak ini perlu diedukasi tentang tanggung jawab kelestarian lingkungan hidup.

Dengan begitu dapat dipahami mengapa biaya layanan jasa kesehatan “terasa mahal” oleh sebagian konsumen, bahkan tarifnya tidak merata diseluruh wilayah Indonesia.

Tak lain hal itu karena terdapat komponen biaya “pengolahan limbah medis” yang perlu dipenuhi. Dengan berbagai klasifikasi turunan, hingga kategori “limbah medis (limed) infeksius Covid-19”.

Dalam mata rantai bisnis, penyedia fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) misal Rumah Sakit dan Puskesmas berperan sebagai produsen limed dari pasien, wajib bekerja sama dengan transporter (jasa pengangkut).

Transporter bertugas untuk mengangkut limed yang sudah dikemas oleh Fasyankes ke tempat pengolahan seperti insinerator (incinerator).

Insinerator adalah fasilitas pengolahan limed dengan metode thermal atau pembakaran. Limbah medis dibakar dalam rotary chamber (tungku berputar) dengan suhu mencapai minimal 1000 derajat Celsius. Tujuannya agar setiap limbah medis yang bersifat padat mau pun cair hancur menjadi residu (ash).

Kembali bicara soal harga pengelolaan limbah. Maka di dalamnya termasuk biaya pengangkutan dan pengolahan limed infeksius.

Ongkos yang perlu dikeluarkan oleh tiap Fasyankes berbeda-beda disetiap wilayah, hal itu diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) masing-masing daerah. Pada titik ini lah penyebab biaya layanan kesehatan di berbagai Rumah Sakit bervariasi.

Lebih lanjut, insinerator dalam operasionalnya juga berperan sebagai penghasil limbah. Limbah yang dihasilkan adalah residu debu (ash).

Dalam hal ini, pengelola insinerator dapat bekerja sama dengan pelaku usaha lainnya dalam bidang industri pemanfaat limbah. Sebab debu pembakaran (fly ash – bottom ash) yang dihasilkan insinerator dapat dijadikan bahan dasar pembuatan hal-hal bermanfaat lainnya.

Limbah medis infkesisus harus ditangani dengan benar agar tidak menjadi sumber penularan penyakit dan pencemaran lingkungan. Keseluruhan proses ini dikenal dengan istilah circular economy berasas kelestarian lingkungan hidup.

Usai menjalankan tugas, kami menyempatkan untuk berkunjung ke ekowisata karst Rammang-rammang.

Rammang-rammang adalah sebuah kawasan bentang alam berupa gugusan pegunungan karst yang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan karst ini terintegrasi dengan Kawasan Karst Maros-Pangkep.

Berikut ini galeri foto kami dalam sesi kunjungan ke Rammang-rammang.

Rammang-Rammang
Latar pegunungan karst Rammang-rammang.
Ternak kerbau dan suasana pedesaan.
Berpose dengan latar pedesaan di Rammang-rammang.
Udara sejuk terasa saat melintasi rawa-rawa.
Sewa perahu untuk sampai ke lokasi.
Laju perahu dikurangi saat melintasi celah karst.

Key takeaways

Jika Anda berencana pergi ke Rammang-rammang, ada baiknya mencari referensi terlebih dahulu tentang spot-spot menarik untuk sesi foto. Jangan lupa untuk menyiapkan pose andalan. Gas Roads!

Konten Terkait