Merkuri: Penjelasan dan Bahayanya Bagi Kesehatan Manusia

1. Apa itu Merkuri?

Merkuri di Indonesia disebut raksa (nama lama: air raksa) atau mercury atau hydrargyrum (bahasa Latin: Hydrargyrum, air atau cairan perak) adalah unsur kimia pada tabel periodik dengan simbol Hg dan nomor atom 80.

Unsur golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap. Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Kelimpahan Hg di bumi menempati di urutan ke-67 di antara elemen lainnya pada kerak bumi. Di alam, mercury (Hg) ditemukan dalam bentuk unsur mercury (Hg0), merkuri monovalen (Hg1+), dan bivalen (Hg2+). keduanya merupakan logam paling rapuh.

Itulah penjelasan singkat mengenai air raksa yang dinukil dari artikel berjudul Raksa.

Gunakanlah panduan daftar isi (table of contents) di bawah ini untuk memudahkan anda memahami isi artikel.

Selanjutnya membahas tentang raksa dari sudut pandang yuridis.

2. Merkuri dari Perspektif Hukum

Dasar hukum raksa diatur dalam beberapa Peraturan Menteri (Permen), di antaranya sebagai berikut:

  1. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.81/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 Tentang Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2019 Tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri;
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2016 Tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dampak Kesehatan Akibat Pajanan Merkuri Tahun 2016-2020;
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2019 tentang Penghapusan dan Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Permen tersebut dapat diunduh di jdih.menlhk.co.id dan di kesjaor.kemenkes.co.id

Dalam Peraturan Menteri dijelaskan bahwa merkuri adalah zat kimia yang terdiri dari unsur merkuri tunggal atau senyawanya yang berikatan dengan satu atau lebih unsur kimia lainnya.

Indonesia saat ini telah teridentifikasi dalam penggunaan merkuri di bidang industri terutama industri kecil yang memberikan kontribusi pencemaran merkuri yang cukup tinggi sehingga perlu dilakukan upaya
pengurangan dan penghapusan merkuri di Indonesia.

Pemerintah Pusat dan Daerah dituntut untuk melaksanakan Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN-PPM) yang bertujuan untuk mengurangi dan menghapuskan merkuri atau hydrargyrum di tingkat nasional dan daerah yang terpadu dan berkelanjutan.

3. Bahaya Merkuri bagi Kesehatan Manusia

Simak film dokumenter “Minamata: The VIctims and Their World” tentang tragedi pencemaran merkuri di Minamata – Jepang, berikut ini:

Merkuri merupakan salah satu bahan kimia yang persisten dan bersifat bioakumulatif dalam ekosistem sehingga memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Merkuri berbentuk cair, berwarna putih perak serta mudah menguap pada
suhu ruangan dimana biasanya berbentuk senyawa organik dan anorganik
yang bersifat persisten, bioakumulasi, dan berbahaya bagi kesehatan manusia berupa gangguan perkembangan janin, sistem syaraf, sistem pencernaan dan kekebalan tubuh, paru-paru, ginjal, kulit dan mata serta juga pencemaran lingkungan hidup.

Tahukah teman bahwa batas konsentrasi merkuri yang diperbolehkan dalam tubuh manusia adalah:

  • Konsentrasi merkuri total dalam darah sebesar 0,5 mikrogram/100 ml darah;
  • Konsentrasi merkuri total dalam urin sebesar 5 mikrogram/gra kreatinin;
  • Konsentrasi pada rambut sebesar < 10 ppm.

Di bawah ini adalah daftar dampak pajanan merkuri terhadap sistem tubuh manusia.

3.1 Paru-paru

Dampak pajanan terhadap sistem paru-paru adalah nafas pendek, pneumonitis, edema, emfisema, pneumatocele, sakit dada pleuritik, batuk, fibrosis interstitial, RDS.

3.2 Saluran Pencernaan

Dampak pajanan akut terhadap sistem saluran pencernaan manusia adalah nausea, muntah, sakit perut parah, diare, dan pendarahan di sistem pencernaan. Dampak kronis berupa konstipasi, diare, generalized distress.

3.3 Sistem Syaraf Pusat

Dampak pajanan akut terhadap sistem syaraf pusat manusia adalah Tremor, gagguan iritabilitas, kelesuan, kebingungan, refleks berkurang, konduksi syaraf, dan gangguan pendengaran. Dampak kronis berupa Tremor, insomnia, rasa malu, hilang ingatan, depresi, anoreksia, sakit
kepala, ataksia, disarthria, berjalan tidak stabil, gangguan visual
dan vasomotor, neuropati, dan paresthesias.

3.4 Dampak Pajanan Merkuri bagi Kulit dan Jaringan Berkeratin

Dampak akut bagis sitem kulit adalah inflamasi mukosal (stomatitis) dan membran keabuan, sakit membran buccal,kulit terbakar dan mengalami pendarahan, dermatitis, erythernatous dan ruam kulit pruritik, dan alopecia.

Dampak kronis berupa gingivitis, acrodynia, munculnya garis biru tipis di gusi, dan alopecia.

3.5 Hati

Dampak pajanan mercury bagi sistem hati manusia adalah meningkatnya enzim serum.

3.6 Ginjal

Dampak pajanan akut bagi sistem ginjal manusia adalah oliguria, anuria, hematria, proteinuria, gagal ginjal. Sementara itu, dampak kronisnya adalah polyuria, polydipsia, dan albuminuria.

3.7 Sistem Reproduksi

Dampak pajanan senyawa kimia berbentuk cairan perak putih ini bagi sistem reproduksi manusia adalah terjadinya aborsi spontan.

Sementara dampak kronisnya adalah kerusakan otak berupa keterbelakangan, inkoordinasi, kebutaan, gangguan berbicara, ketulian, seizures, dan paralisis.

3.8 Otot dan Rangka

Dampak pajanan hydrargyrum bagi sistem otot dan rangka manusia adalah sakit pinggang, otot melemah, kehilangan massa otot, tremor,
dan paralisis.

3.9 Dampak Lainnya

Demam, menggigil, lidah merasa seperti logam, nafas tidak teratur, gigi
tanggal, kehilangan berat badan, keringat berlebihan, ruam, lendir berlebihan, dan sensitif terhadap cahaya.

4. Bencana Merkuri Bagi Umat Manusia

Sejarah telah mencatat bahaya merkuri bagi manusia.

Terjadinya tragedi Minamata telah memberikan gambaran betapa luasnya dan beratnya dampak kerusakan akibat pencemaran merkuri terhadap kesehatan manusia yang juga mempengaruhi hingga ke beberapa generasi. Berbagai pengalaman di dunia tersebut telah mendorong 91 negara di dunia menandatangani Konvensi Minamata PBB pada tahun 2013 dimana Indonesia termasuk di dalamnya.

Baca juga: Indonesia Jadi Tuan Rumah Pertemuan PBB Tahun 2021.

Penyakit ini mendapat namanya dari kota Minamata, prefektur Kumamoto di Jepang, yang merupakan daerah di mana penyakit ini mewabah mulai tahun 1958. Pada waktu itu terjadi masalah wabah penyakit di kota Minamata Jepang. Ratusan orang mati akibat penyakit yang aneh dengan gejala kelumpuhan saraf.

Mengetahui hal tersebut, para ahli kesehatan menemukan masalah yang harus segera di amati dan di cari penyebabnya. Melalui pengamatan yang mendalam tentang gejala penyakit dan kebiasaan orang jepang, termasuk pola makan kemudian diambil suatu hipotesis.

Hipotesisnya adalah bahwa penyakit tersebut mirip orang yang keracunan logam berat. Kemudian dari kebudayaan setempat diketahui bahwa orang Jepang mempunyai kebiasaan mengonsumsi ikan laut dalam jumlah banyak.

Dari hipotesis dan kebiasaan pola makan tesebut kemudian dilakukan eksperimen untuk mengetahui apakah ikan-ikan di Teluk Minamata banyak mengandung logam berat (merkuri).

Kemudian disusun teori bahwa penyakit tesebut diakibatkan oleh keracunan logam merkuri yang terkandung pada ikan. Ikan tesebut mengandung merkuri akibat adanya orang atau pabrik yang membuang merkuri ke laut.

Penelitian berlanjut dan akihrnya ditemukan bahwa sumber merkuri berasal dar pabrik batu baterai Chisso. Akhirnya pabrik tersebut ditutup dan harus membayar kerugian kepada penduduk Minamata kurang lebih dari 26,6 juta dolar.

5. Benda-benda yang Mengandung Merkuri di Sekitar Kita

merkuri pada baterai bekas
Merkuri pada baterai bekas | Sumber gambar. Resource.Co

Tahukah teman? Batu baterai bekas dan beberapa alat kesehatan seperti termometer ber-merkuri perlu dihindari.

Oleh sebab itu, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2019 tentang Penghapusan dan Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, telah menyatakan dengan tegas bahwa penggunaan alat kesehatan bermerkuri di fasilitas
pelayanan kesehatan akan berdampak pada masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat, sehingga penggunaannya perlu dihentikan.

Penarikan dan penyimpanan alat kesehatan yang mengandung merkuri berlaku untuk seluruh jenis fasilitas pelayanan kesehatan yang meliputi: tempat praktik mandiri tenaga kesehatan; pusat kesehatan masyarakat; klinik; rumah sakit; apotek; unit transfusi darah; laboratorium kesehatan; optikal; fasilitas pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum; dan fasilitas pelayanan kesehatan tradisional.

Best regards! Affan, Roadio.ID

Konten Terkait