Membaca Psikologis “Hacker” Bjorka

Bogor – Roaders, Fenomena Bjorka sejenak mengalihkan perbincangan isu-isu krusial negeri ini seperti penolakan kenaikan harga BBM, kasus Sambo yang makin berbelit-belit dan kasus KM 50 yang tak kunjung menemukan titik terang. Jika ada sebagian orang menilai bahwa munculnya bjorka sebagai bentuk pengalihan isu, maka tidak terlalu salah juga.

Sebab telah menjadi budaya di negeri ini soal strategi pengalihan isu di saat ada persoalan bangsa yang menyita perhatian publik secara luas dan dalam waktu yang lama. Namun, jika ada masyarakat yang mendukung bjorka juga bisa dipahami. Sebab psikososial masyarakat yang kecewa akan kekuasaan rezim ini seolah terwakili oleh postingan-postingan bjorka di akun twiternya.

Terlebih banyak masyarakat yang cukup kecewa terhadap kasus polisi tembak polisi yang sejak awal bergulir ke publik ternyata terbukti banyak keterangan bohong yang justru dilontarkan oleh otoritas. Keterangan bohong ini akhirnya berujung pada pencopotan beberapa struktur kepolisian. Rakyat lantas menduka, bisa jadi kebohongan ini adalah fenomena puncak gunung es. Bjorka muncul di era post truth, maka wajar jika kemunculannya menimbulkan pro kontra, bisa jadi dia jujur anti rezim, bisa jadi sebaliknya juga.

M Rizal Fadilah menilai Bjorka mengejutkan dan akun instagramnya telah membuat gemetar pejabat penting Indonesia. Data pribadi diretas mulai Puan Maharani, Erick Thohir, Johnny G Plate, Tito Karnavian, Luhut Panjaitan hingga Joko Widodo. Badut Istana Denny Siregar pun ikut dibongkar-bongkar. Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan kebenaran data yang diretas oleh Bjorka meskipun menurutnya masih yang umum umum.

Kabinet geger dan Jokowi ketar-ketir lalu membentuk tim lintas sektoral emergency respons yang terdiri dari Kemenkominfo, BIN, BSSN, dan Polri untuk melawan Bjorka. Bjorka sendiri mengindikasikan keberadaan dirinya di Polandia karena menurut pengakuannya ia berteman dengan orang Indonesia di Warsawa.

Eks pelarian tahun 1965. Di satu sisi dia menyebut era Soeharto, namun disisi lain seolah menyerang rezim Jokowi, adakah relevansinya?

Fenomena bjorka ini bisa dibaca dalam perspektif psikologi sosial. Psikologi sosial mempelajari tentang hubungan antara manusia dan kelompok pada lingkungannya yang dipengaruhi dengan perilaku manusia.

Dalam kehidupan bersosial, terkadang ada kalanya kita mempunyai hubungan yang tidak baik (destruktif)  dengan manusia atau sebaliknya, terdapat hubungan baik (konstruktif).  Bjorka hadir dalam situasi hubungan antara rakyat dan penguasa sedang tidak baik karena kebijakannya kerap dinilai merugikan rakyat kecil.

Interaksi sosial manusia di masyarakat baik itu antar individu, individu dan kelompok ataupun antar kelompok memiliki respon kejiwaan. Reaksi kejiwaan seperti sikap, emosional, perhatian, kemauan. Kemudian juga motivasi, harga diri dan lain sebagainya tercakup dalam psikologi sosial. Psikologi sosial merupakan ilmu mengenai proses pekembangan mental manusia sebagai makhluk sosial.

Dengan demikian, psikologi sosial mempelajari hal hal yang meliputi perilaku manusia dalam konteks sosial.

Bjorka hadir di tengah negeri darurat korupsi. Di negeri ini, para koruptor kakap yang membawa kabur triliunan uang rakyat justru seolah dilindungi dan tidak dihukum mati.

Padahal faktanya telah menjadikan jutaan rakyat terjerat kemiskinan akibat korupsi ini. Tidak hanya sampai disitu, organisasi agama yang lantang mengkritik perilaku pejabat korup dalam sistem rusak justru dibubarkan. Organisasi yang anti kemaksiatan juga dibubarkan. Jadi Indonesia itu negeri macam apa ?

Meski para peneriak ‘saya pancasila’ dan ‘NKRI harga mati’ serta fitnah ‘radikal radikul’ telah banyak yang meringkuk di jeruji besi karena maling uang rakyat, dari pejabat pemerintah, pengurus partai hingga rektor bergelar profesor doktor, namun masih banyak koruptor kelas kakap yang masih melenggang tak tersentuh hukum. Dengan mudahnya mereka kabur ke luar negeri.

Bahkan hingga kini ada koruptor yang menghilang begitu saja tanpa bisa ditemukan oleh pihak kepolisian. Sangat berbeda ketika mencari orang yang dituduh radikal radikul, dengan mudahnya tertangkap. Kenapa bisa seperti ini, jawabnya adalah ketika ada kasus polisi tembak polisi terbongkar. Terbongkar sudah semua kebusukan sistem dan aparat di negeri ini yang selama ini ditutupi.

Jadi siapa sebenarnya pengkhianat di negeri ini?

Dititik inilah psikologi sosial rakyat kecil seolah diwakili oleh bjorka, meskipun tidak ada yang siapa dia sebenarnya dan apa pula motifnya. Sebab dengan membocorkan data-data, sebenarnya yang rugi rakyat banyak juga. Namun demikian, bjorka telah mengkonfirmasi bahwa nampaknya data-data negara ini mudah dibobol oleh hacker.

Konten Terkait