Latihan Menulis Populer National Geographic

Beban komunikasi berada pada penyusunan kalimat, sehingga perlu menulis dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik, benar, dan populer.

Mengejar produktivitas merupakan rutinitas yang saya lakoni. Tidak hanya soal bekerja optimal di kantor, akan tetapi juga mengisi waktu luang dengan Search Engine Optimization (SEO), analisis data di Google Analytics, Search Console, dan Trends ID. Termasuk menghadiri pelatihan di Hotel Salak The Heritage Bogor.

Kursus singkat, begitu saya menyebutnya, dipagi ini bertajuk “Pelatihan Penulisan Buku Best Practices Pengelolaan Kerja Sama Dalam Negeri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021”. Kegiatan diselenggarakan oleh Biro Perencanaan KLHK. Bagaimana tidak bersemangat, pemateri yang didatangkan adalah seorang kontributor majalah kelas dunia, National GeographicAgus Prijono.

Perjalanan dari rumah menuju hotel yang sudah berdiri sejak 1856, terasa menyenangkan. Sebab kepadatan kendaraan di jalan terbilang rendah.

Sensasi nyaman berkendara kian menguat dengan kesejukan di Jl. A. Yani, selepas guyuran hujan tadi malam. Paparan radiasi sinar matahari pun tak sanggup menembus kerimbunan pohon-pohon tua nan tinggi besar, dengan akar gantung menjuntai dari atas ke bawah. Bogor banget kan ya.

Tahukah Anda bahwa hotel Salak The Heritage berada tepat di seberang Istana Presiden Bogor? Tempat ini merupakan bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda.

Setibanya di hotel, terlihat petugas yang mengawasi terlaksananya protokol kesehatan Covid-19 di pintu utama lobi. Kemudian saya melanjutkan langkah menuju ruang pertemuan. Tidak asing dalam pengelihatan, sebagian dari peserta adalah orang-orang yang biasa saya jumpai dalam acara luar kantor.

Alih-alih berjabat tangan, kami saling menyapa dengan mengucap salam dan menebar senyum yang tersembunyi di balik masker kesehatan. Ini lah wajah new normal yang menggeser adab keseharian yang pada kurun waktu sebelumnya sudah mandarah daging dalam budaya timur masyarakat Indonesia.

Hari pertama, sesi kesatu dimulai pukul 9.00 hingga 11.30. Saya sudah banyak mencatat intisari. Satu pesan Agus yang saya tangkap dan “ditulis dengan tinta emas” adalah, “Beban komunikasi berada pada penyusunan kalimat, sehingga perlu menulis dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, tulisan patut disusun dengan bahasa populer.”

Bahasa populer berarti kosakata yang dikenal oleh orang banyak, bukan yang semata sedang trend pada waktu berjalan.

Oleh karena itu, penulis perlu menyusun tulisan dengan konsep yang kreatif yakni berparagraf pendek, kalimat efektif, dan pemilihan kata yang populer.

Berdasar hal tersebut, saya dapat merasakan kualitas materi yang bermutu. Sebuah asupan yang dibutuhkan untuk menunjang tugas copywriting konten website Konvensi Minamata COP-4 2021-2022 yang tengah menanti.

Hari kedua, sesi pertama. Saya dan peserta lain memperhatikan materi fotografi yang disampaikan oleh Agus Prijono. Pendidikan dasar akan tetapi penting seperti komposisi, pengaturan aperture, ISO, dan kecepatan rana, hingga rule of thirds.

Tidak lupa disampaikan, pemateri juga berbicara soal kiat sebelum melakukan pengambilan gambar. Mulai dari memeriksa kelengkapan peralatan kamera, membuat shot list, dan memperhatikan intensitas cahaya di lokasi. Di akhir sesi kelas, kami diminta untuk mempraktekkan pengambilan foto simple di sekitar hotel.

Sesi terakhir. Ruang belajar dipadati materi desain grafis, secara khusus tentang tipografi atau tata huruf. Merupakan teknik memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, guna kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dalam menyusun buku, pemilihan huruf memegang peranan penting untuk mendukung keterbacaan. Harus tepat kapan menggunakan huruf-huruf serif dan san serif. Sebaiknya seorang desainer tidak menggunakan lebih dari tiga tipe huruf.

Demikianlah pengalaman saya dalam kursus singkat menulis kreatif dan populer yang dibimbing oleh pelatih National Geographic, Agus Prijono.

Terimakasih kepada:
1. Biro Perencanaan KLHK;
2. Sekretatiat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya, dan Beracun KLHK;
3. Sumber foto: Pandu Aditya Affandi, Mochammad Desby Aditia.

Konten Terkait